02 Januari 2017

Tafsir Ayat Terakhir Surat Al Baqaroh

Tafsir QS 2:286 berurutan siaran radio elviktor - surabaya pada tgl 4, 8, 11 pebruari 2011
TAFSIR QS 2 ALBAQOROH : 286,
Oleh UST SUMARDI

 لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
Surah Al-Baqarah,2:286

لَا ‪tidak‬ يُكَلِّفُ ‪membebani‬ ٱللَّهُ ‪Allah‬ نَفْسًا ‪seseorang‬ إِلَّا ‪melainkan‬ وُسْعَهَا ‪kesanggupannya‬ لَهَا ‪baginya‬ مَا ‪apa‬ كَسَبَتْ ‪usahakan‬ وَعَلَيْهَا ‪dan atasnya‬ مَا ‪apa‬ ٱكْتَسَبَتْ ‪kerjakan‬ رَبَّنَا ‪ya Tuhan kami‬ لَا ‪janganlah‬ تُؤَاخِذْنَآ ‪Engkau hukum kami‬ إِن ‪jika‬ نَّسِينَآ ‪kami lupa‬ أَوْ ‪atau‬ أَخْطَأْنَا ‪kami bersalah‬ رَبَّنَا ‪ya Tuhan kami‬ وَلَا ‪dan janganlah‬ تَحْمِلْ ‪Engkau bebankan‬ عَلَيْنَآ ‪atas kami‬ إِصْرًا ‪yang berat‬ كَمَا ‪sebagaimana‬ حَمَلْتَهُۥ ‪Engkau bebankannya‬ عَلَى ‪atas‬ ٱلَّذِينَ ‪orang-orang yang‬ مِن ‪dari‬ قَبْلِنَا ‪sebelum kami‬ رَبَّنَا ‪ya Tuhan kami‬ وَلَا ‪dan jangan‬ تُحَمِّلْنَا ‪Engkau pikulkan pada kami‬ مَا ‪apa‬ لَا ‪tidak‬ طَاقَةَ ‪sanggup‬ لَنَا ‪bagi kami‬ بِهِۦ ‪dengannya‬ وَٱعْفُ ‪dan maafkanlah‬ عَنَّا ‪dari kami‬ وَٱغْفِرْ ‪dan ampunilah‬ لَنَا ‪bagi kami‬ وَٱرْحَمْنَآ ‪dan rahmatilah kami‬ أَنتَ ‪Engkau‬ مَوْلَىٰنَا ‪penolong kami‬ فَٱنصُرْنَا ‪maka tolonglah kami‬ عَلَى ‪atas/terhadap‬ ٱلْقَوْمِ ‪kaum‬ ٱلْكَٰفِرِينَ ‪orang-orang kafir

diperoleh dari arsip pak fuad di link berikut :
  1. Siaran Elviktor tanggal 4 pebruari 2011 (klik mendengarkan)
  2. Siaran Elviktor tanggal 8 pebruari 2011 (klik mendengarkan)
  3. Siaran Elviktor tanggal 11 pebruari 2011 (klik mendengarkan)


08 Desember 2016

Memaknai Lempar Jumrah

Siapa atau apa sebenarnya yg dilempari batu kerikil di MINA itu,
kita tidak tahu,

Ada yg berkata ia adalah tugu,
ada yg berkata setan.
Atau entah apa lagi.

Tapi pentingkah semua itu, mungkin ya mungkin tidak, kisah tentang Tuhan, para Nabi, tentang pengorbanan jiwa, kisah tentangketeguhan iman dan kesetiaan cinta pada Tuhan, juga tentang hidup sesudah mati, semuanya terlampau dahsyat bagi hidup yg lemah ini.

Sebab, iman itu tidak hanya pengetahuan tentang yg benar dan batil, tapi juga sebuah pemaknaan.

Di MINA, melempar jumrah harus memberikan makna kpd mereka yang berulang-ulang melempari.

Dan dengan makna itu KEAJAIBAN dan KEHEBATAN bisa terjadi.
Dan AGAMA, ia bukan tipuan kebenaran sebuah ajaran,
tapi KOMITMEN pada suatu pendirian,

Sebab untuk ada berarti, kita harus beriman, walau kadang kepada sesuatu yg sulit untuk dipercaya,

Tapi... yg mencemaskan ialah orang yg percaya tapi tidak punya pemaknaan sebab ia melihat doktrin dan ritus sebagai kebenaran yg baku dan sejak semula telah selesai.

Mungkin iman nampak kuat,
tapi ia kehilangan KEANGGUNANNYA,
persis bangunan tugu batu yang dilempari kerikil itu:
DINGIN, MURAM, dan MATI.

dari ustadz Sumardi : I'tibar JUMRAH

21 November 2016

Kajian Fadlilah Surat Yasin

Kajian mengenai fadlilah Surat Yasin diselenggarakan oleh ustadz Sumardi dalam tiga kali pertemuan. Yaitu :
  • Kajian pertama, tanggal 18 Mei 2012
  • Kajian kedua, tanggal 15 Juni 2012
  • Kajian ketiga, tanggal 21 september 2012
Berikut disajikan streaming rekaman kajian tersebut.
Tak lupa disampaikan terima kasih kepada Pak Chusnan yang telah bersedia berbagi koleksi rekamannya, sehingga bisa kita tampilkan disini.

Streaming Rekaman


Kajian pertama | durasi hampir 1 jam


Kajian kedua | durasi 1 jam lebih sedikit


Kajian ketiga | durasi 1 jam lebih 13 menit


***

17 Oktober 2016

Bahasa itu Bayang-bayang Pikiran

Catatan pengajian dalam memahami terjemah Al Quran diberikan pengantar terkait bahasa. Catatan yang dimaksud sbb :
  • Bahasa itu alat yang sangat tidak memadai untuk berfikir dengan tertib dan untuk melahirkan pendapat (C.P.F. Lecoutere, L. Grootaers dalam Inleideng tot de Taalkunde en tot de Geschiedens van het Nederlands, halaman 177)
  • Bahasa sebagai bayang-bayang pikiran, artinya bahasa tidak dapat melukiskan bentuk pikiran sesempurna dan selengkap bentuk pikiran itu sendiri. Itulah mengapa timbul apa yang dikenal sebagai gaya bahasa, ragam bahasa dan seterusnya.
  • Terdapat 2 macam kaidah bahasa, yaitu kaidah umum yang berlaku untuk semua bahasa dan kaidah khusus yang berlaku untuk suatu bahasa tertentu.
  • Terjemahan: yang diterjemahkan itu bukan bahasanya (seperti kata-katanya dan kalimatnya) tetapi bentuk pikirannya. Sebab bayang-bayang tidak sesempurna dan selengkap bentuk pikiran itu sendiri sehingga kemungkinan salah makna atau salah terima pikiran itu sendiri dapat dikurangi.
Info buku "Inleideng tot de Taalkunde en tot de Geschiedens van het Nederlands" bisa dilihat di : books.googleperpustakaan Australia | Cover di AbeBook


12 Agustus 2016

Hadist itu Wahyu atau Bukan ?

Al Quran, sebagaimana kita sudah pahami merupakan wahyu Allah yang berupa Firman atau Kalamullah.
Sedangkan Al Hadist lebih dikenal sebagai riwayat prilaku Nabi Muhammad. Sebagai riwayat memang memiliki sejarah penulisannya, sebagaimana sejarah penulisan Al Quran. Hanya saja Al Hadist memerlukan lebih banyak penelitian dan kritik untuk bisa diterima sebagai pegangan dalam beragama.
Keharusan menggunakan Al Hadist sebagai pegangan beragama ini, bagi sebagian kecil umat Islam ada yang tidak perlu karena dianggap bukan wahyu Allah. Padahal sudah dikenal kalau Al Hadist itu memang menjadi sumber kedua ajaran Islam. Bagaimana bisa serangkaian riwayat yang dituliskan oleh para ulama kemudian dianggap sebagai wahyu Allah.
Disinilah letak kesulitannya, yaitu bagaimana memberikan pemahaman bahwa prilaku Nabi Muhammad itu yang diabadikan dalam catatan riwayat itu memang seharsunya menjadi pegangan dalam beragama.
Dengan memilih fokus pada sejauhmana posisi Al Hadist sebagai wahyu atau bukan, berikut mindmap tentang wahyu yang diterima Nabi Muhammad sebagai alat untuk memahaminya. Semoga dapat membantu.
atau