17 Juni 2009

Manusia


Makalah ini merupakan materi pengajian yang kami terima di tahun 1985-an, tanggal tepatnya sudah lupa. Semoga bermanfaat.

Oleh : Mh. Amin Jaiz (alm)

(1) Pengantar
Uraian tentang suatu benda, hal dan sebagainya adalah suatu pengertian. Dan segala macam pengertian tentang suatu macam benda, hal dan sebagainya yang tersusun dinamakan ilmu. Pengertian diperlukan oleh kita yang belum mengerti, sedangkan ilmu diperlukan oleh kita yang menghendaki pengertian yang sebanyak-banyaknya dan sedalam-dalamnya tentang suatu benda, hal dan sebagainya yang bersangkutan.

Tidak selamanya ilmu itu bisa memberikan kepuasan dalam arti relatif. Sebab pada umunya uraiannya berdasarkan sebanyak-banyak saja, tidak sampai pada apa-apa yang ada dibalik itu. Kalau kita sudah berbicara suatu ilmu dan sampai kepada apa-apa yang mungkin ada dibalik itu, maka berarti kita sedang memasuki bidang filsafat, filosofi atau ilmu kalam. Oleh sebab itu ada pendapat bahwa filsafat membicarakan kebenaran yang setinggi-tingginya atau sebab yang sepokok-pokoknya daripada wujud atau akibat yang ada.

Kita telah tahu, telah mengerti apa manusia itu, dan setiap orang tahu semua. Ini merupakan pengertian.

Selanjutnya ada ilmu-ilmu yang berhubungan dengan manusia dari segi pandangan yang bermacam-macam. Misalnya manusia sebagai sesuatu yang hidup (ilmu hayat), manuisa sebagai bagian daripada kelompoknya (ilmu kemasyarakatan atau sosiologi), manusia yang berjiwa, yalah yang dapat mengingat, memikir, menduga, meyakini dll (ilmu jiwa atau psychologie) dan sebagainya.

Semua itu diuraikan berdasarkan sebanyak-banyak pada apa yang dapat disaksikan atau disentuh dengan pancaindra. Akan tetapi pada sementara dari kita memerlukan apa-apa yang ada dibalik semua itu. Misalnya dari apa, dari mana dan akan kemana manusia itu sebenar-benarnya, bagaimana sebelum manusia ada dalam rahim ibunya, bagaimana manusia sesudah mati, apa sebenarnya yang disebut manusia itu dan sebagainya.

Keterangan tentang itu semua ada 2 macam :
  1. Berdasar kemampuan akal manusia semata-mata. Ini dinamakan pembicaraan filosofich yang tidak lepas dari dasar-dasar keilmuan ilmiah, atau wetenchappelijk.
  2. Berdasarkan kemampuan akal manusia dengan landasan wahyu ilahi, baik yang berbentuk kata-kata (Al Quran) maupun yang berbentuk pengertian (AL Hadits). Ini yang dinamakan pembicaraan Islamisch yang tidak lepas dari dasar-dasar keilmuan dan filosofisch.

Penggunaan akal yang sebaik-baiknya menjadi syarat yang mutlak bagi kita untuk memahami pembicaraan tentang berbagai pengertian. Kemudian dengan memiliki pengertian-pengertian yang sebanyak-banyaknya tentang suatu benda, hal dan sebagainya kita berbicara tentang ilmu yang mengenai benda, hal dan sebagainya itu. Lalu dengan memiliki ilmu tentang benda, hal dan sebagainya itu kita baru berbicara secara filosofisch tentang itu. Dan akhirnya dengan bahan akal, ilmu dan filsafat kita mulai pembicaraan-pembicaraan Islamisch. Dan oleh karena itu menyangkut Al Quran dan Al Hadits, maka dengan sendirinya setiap pembicara kecuali perlu mempergunakan akal dengan sebaik-baiknya, ada ilmu-ilmu tentang manusia, ada bahan-bahan filosofisch tentang manusia, juga perlu ada memiliki pengetahuan tentang memahami isi Al Quran dan Al Hadits serta cara berpegang atau berhukum pada keduanya. Jika tidak, kita akan mudah tergelincir kepada pendapat-pendapat yang tidak logisch, tidak ilmiyah, tidak filosofisch, dan yang paling membahayakan yaitu tidak Islamisch atau bertentangan dengan Al Quran dan Al Hadits.

Oleh sebab itu pembicaraan secara Islamisch tetang manusia sedikitnya memerlukan ketenangan jiwa, disamping ahli-ahli ilmu yang berhubungan dengan manusia, ahli-ahli filsafat tentang manusia dan ahli-ahli Al Quran dan Al Hadits. Semua tiu tidak mungkin ada pada seorang manusia yang hanya terbatas kemampuannya itu.

Boleh jadi ada yang mengatakan bahwa persyaratan yang dikemukakan tersebut hanya akan mempersulit atau menggagalkan pembicaraan yang akan mencari kebenaran apa yang disebut manusia itu saja.

Seandainya pembicaraan itu tidak menyentuh masalah ruh, kiranya pembicaraan itu bisa kita lakukan dengan cara yang sesederhana mungkin, apalagi kalau hasil pembicaraan itu akan dipubliser.

Sebab kita memahami dan juga menyadari bahwa soal "ruh" itu adalah soal ghaib. Hanya Allah sendirilah yang Maha Tahu tentang yang ghaib itu. Bukan ghaib yang berarti hanya yang tidak tersentuh dengan pancaindra kita saja, tetapi jug yang diluar pencapaian akal kita. Bukankah kita tersuruh beriman tentang yang ghaib itu, yalah dalam arti tashdiq atau menerima dan meyakini kebenarnannya ?

Jika kita oleh Allah dibatasi pengertian kita tentang ruh itu dengan ktaa-kata "hanya sedikit", maka ini janganlah diartikan sebagai pengertian tentang "ruh" itu yang diluar akal kita, apalagi jelas-jelas bisa menyalahi atau bertentangan dengan garis Al Quran dan AL Hadits (Al Isra' : 85).

Dan pengertian kita yang sedikit tentang "ruh" dan yang berhubungan dengan pengertian tentang "manusia" akan dicoba untuk dibicarakan disini.

(2) Kholiq dan makhluq
Khaliq itu pencipta, yalah yang menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Dan khaliq disini maksudnya adalah Allah swt sebagai pencipta alam seisinya ini yang sebelumnya tidk ada.
Allah swt itu Maha Kuasa, maksudnya kuasa bertindak apa saja yang dikehendaki oleh-Nya dan menguasai segalanya terutama sekali makhluq-Nya.

(3) Manusia
Jika kata "manusia" sebagai salinan kata "insan atau nas", maka dapat diterangkan begini :
Manusia itu diciptakan Allah (Al Dzariyat : 56). Ini berarti bahwa sebelum diciptakan, manusia itu tidak ada. Dan selanjutnya, manusia diciptakan berturut-turut dari tanah, kemudian nuthfah, seterusnya 'alaqoh, lalu lahir, anak, dewasa, tua dan mati (AL Mu'min : 67).

Nuthfah menjadi awal adanya manusia dalam rahim ibunya dan lahir menjadi awal adanya di bumi dan mati menjadi akhir adanya di bumi.

Dari sejarahnya sejak adanya dalam rahim ibunya sampai matinya, manusia memiliki berturut-turut tingkat perwujudan organis, vegetatif, animal dan human.

Perwujudan organis
Perwujudan organis artinya berbentuk kebendaan sehingga dapat disentuh dengan pancaindra. Bergeraknya dan berubahnya tergantung pada kekuatan-kekuatan disekelilingnya yang menguasai atau mempengaruhinya.
Manurut AL Mu'min : 67, kira-kira baru berbentuk nuthfah.

Perwujudan vegetatif
Perwujudan vegetatif artinya bentuk kehidupan perkembangan, sehingga dapat meningkat pada dirinya karena hubungannnya dengan kekuatan disekeliling yang menguasai atau mempengaruhinya, seperti kehidupan tetumbuhan.
Sampai pada tingkat ini sudah memiliki perwujudan organis dan vegetatif.

Menurut Al Mu'min : 67, kira-kira sudah berbentuk 'alaqoh.

Menurut Al Mu'minun : 14, menyebutkan kelanjutannya dari 'alaqah menjadi daging, kemudian sebagian menjadi tulang, baru tercipta sempurna manusia.

Perwujudan animal.
Perwujudan animal artinya bentuk kehidupan pergerakan, sehingga dapat bergerak sendiri bukan karena tergantung pada kekuatan-kekuatan di sekelilingnya yang menguasai atau mempengaruhinya, seperti hidupnya binatang.
Menurut (As Sajdah : 9, pen), kira-kira sejak dihembuskan kepadanya ruh, yaitu sebelum lahir. Kedatangan ruh itu manusia mulai melakukan gerakan-gerakan dalam rahim ibunya.
Sampai tingkat ini telah memiliki perwujudan organis, vegetatif dan animal.

Perwujudan human.
Perwujudan human artinya bentuk kehidupan pertindakan, gerak sejak lahir hingga mati, sehingga dapat bertindak psychisch (mengingat, memikir, menduga, meyakini dll) dan fisisch (mendengar, melihat, meraba, mencium, mencicipi, bersuara, berguling-guling, duduk, berjalan dan seterusnya), yaitu hidup sebagai manusia di bumi ini.

Sampai tingkat ini telah memiliki perwujudan organis, vegetatif, animal dan human. Oleh sebab itu maka manusia yang ada di dunia ini memiliki hakekat, laku dan sifat organis, vegetatif dan animal disamping human.

Itulah sebabnya maka manusia dikatakan semulia-mulianya makhluq, yang paling tinggi martabatnya diantara senua makhluq (Al Isra' : 70). Ini disebabkan karena manusia ada akal sehingga mampu mengingat, memikir, menduga, meyakini dll yang membuat hidupnya maju, selalu dalam usaha untuk meningkatkan diri. Binatang tidak demikian walaupun sama-sama memiliki tingkat perwujudan organis, vegetatif dan animal sehingga sama-sama sebagai makhluq yang melakukan pergerakan atau yang memiliki kehidupan pergerakan. Hidup binatang tidak maju, tidak selelu dalam usaha meningkatkan diri. Segalanya berlaku dan bersifat tetap saja. Dan oleh karena yang membedakan manusia dan binatang adalah bukti-bukti maju dan tidaknya hidupnya, padahal majunya karena kemampuan akal, maka dapat dikatakan bahwa akal itulah yang membuat manusia lebih mulia dari binatang. Oleh sebab itu jika manusia sedang hilang akal atau tidak mempergunakan akal dengan semestinya, menjadi hilang perwujudan humannya. Padahal wujudnya manusia yang berakal. Maka ini berarti menjadi lebih nista dari binatang yang dipandang hina dan lebih ganas dari binatang yang dipandang buas (Al Anfal : 22).

Dari keterangan ini jelas bahwa ruh itu bukanlah manusianya sendiri, tetapi merupakan alat bagi manusia sehingga mampu bertindak psychisch dan physisch sebagai fitrah beradanya di dalam dunia ini. Oleh sebab itu jika manusia mati maka lepaslah ruh itu dari padanya, sehingga dengan sendirinya tidak mampu bertindak lagi. Lepas pula dari taraf perwujudan human. Demikian pula lepas ari taraf-taraf perwujudan animal, vegetatif dan organis, karena akhirnya akan hancur, kembali menjadi asalnya yaitu tanah. Oleh sebab itu maka alat perwujudan animalnya, vegetatifnya dan organisnya sebagai manusia telah lepas pula.

Akan tetapi pada Hari Qiyamat, mansia dibangkitkan oleh Allah (Muthaffifin :6).

Ini artinya bahwa manusia mati hanya akhir adanya di alam dunia saja, dan tidak berarti berakhirnya kemanusiannya. Jadi semacam diistirahatkan saja sampai dibangkitkannya kelak pada Hari Qiyamat itu. Dan ketika itu manusia akan dihadapkan kepada Allah untuk dinilai (Al Haqqah : 18) untuk mendapatkan balasan nar atau jannah. Disana manusia tidak akan mati lagi sebagaimana yang dialami ketika masih di alam dunia (Ash-Shaffat : 58).

Jika manusia itu sudah ada sebelum berada dalam rahim ibunya, maka kata-kata "tercipta" dalam Adz Dzariyat : 50 itu berarti bahwa yang diciptakan itu bukan manusianya tetapi kelengkapannya untuk dapat melalui sejarahnya dalam rahim ibunya lalu dimuka bumi ini.

Ada kata-kata "nafs atau anfus" dalam Al Quran. Ini artinya pribadi atau persoonlijkheid manusia, bukan manusianya sendiri. Buktinya dalam banyak ayat disebutkan suruhan "berjihad (lah) kalian dengan harta dan nafs atau anfus kalian". Berarti nafas/anfus itu sebanding dengan harta sebagai milik manusia yang bisa lepas atau dilepaskan dalam jihad.

Oleh sebab itu yang bertanggung jawab kepada Allah kelak di akhirat itu bukan ruh atau arwah, bukan nafs atau anfus, akan tetapi adalah manusia sebagai salinan kata insan/naas dalam Al Quran itu.

(4) Nyawa, jiwa, ziel, geest dll
Bagi orang Islam terutama sekali, penterjemahan atau penyalinan bahasa Al Quran dan AL Hadits ke dalam bahasanya memang sangat diperlukan. Sebab dengan begitu ia akan lebih mudah dan dapat memahami ajaran agamanya daripada mempelajari bahasa Al Quran dan Al Hadits itu sendiri. Akan tetapi satu hal yang sangat perlu mendapatkan perhatian, yalah mengenai kata-kata yang telah menjadi istilah jangan sampai berturut-turut diterjemahkan atau disalin seperti kata-kata iman, shalat, shiyam, jannah, nar dll. Sebab istilah-istilah itu menyangkut pengertian tertentu.

Misalnya :
Iman.
Ini jangan diterjemahkan dengan kepercayaan atau percaya. Sebab ada hubungannya dengan pembenaran (tashdiq) dalam sikap dan tindakan lahir dan baitn tentang Ketuhanan dan Keesaan Allah beserta hal-hal yang berhubungan dengan itu.

Shalat
Ini jangan diterjemahkan dengan sembahyang. Karena yang menjadi sebab, caranya, waktu, tempat dan tujuan shalat dalam Islam itu lain dengan yang ada pada sembahyang dalam agama lain.

Dan setersunya.
Demikian pula tentang insan, ruh, nafs dsb.

Oleh sebab itu kiranya tidak perlu kita bersusah-susah apakah sebenarnya yang disebut nyawa, jiwa, ziel, geest dsb itu, atau sampai dimana hubunga pengertiannya dengan ruh dan nafs. Ini tdiak perlu. Sebab salah-salah kita bisa terpelanting ke dalam pengertian-pengertian yang menyalahi atau bertentangan dengan apa yang telah digariskan dalam Al Quran dan Al Hadits.

Lain halnya jika pergunakan kata-kata nyawa, jiwa, ziel, geest dll menurut pengertian-pengertian non Islamisch sebagai bahan perbandingan saja, atau sebagai anak tangga tempat kaki berpijak untuk mencapai kebenaran dan kebaikannya setinggi-tingginya dan sebagainya.

Yang terang dasar pengertian tentang insan, ruh dan nafs itu ada dan jelas, yaitu Al Quran dan Al Hadits yang menjadi pedoman tertinggi setiap orang Islam. Akan tetapi dasar pengertian tentang manusia, nyawa, jiwa, ziel dan geest itu bukan Al Quran dan Al Hadits dan nyatanya ada bermacam-macam menurut ahli-ahli ilmu jiwa dan filsafat, sehingga tidak mudah dipilih mana yang paling benar atau baik. Apalagi kalau dihubung-hubungkan atau diperkosa pengertiannya untuk disesuai-sesuaikan dengan ajaran Islam, yalah garis Al Quran dan Al Hadits.

(5) Kesimpulan
  1. Kita tidak perlu membahas istilah-istilah dalam Islam dengan mempergunakan istilah-istilah non Islamisch
  2. Yang akan bertanggung jawab kepada Allah kelak dihari Qiyamat adalah insan
  3. Sedangkan ruh itu pemberian Allah kepada insan sebagai kelengkapannya untuk dapat melalui sejarahnya sejak adanya dalam rahim ibunya hingga matinya.
  4. Adapun nafs itu kelengkapan insan yang sewaktu-waktu bisa dilepaskan pula.

(6) Penutup
Keterangan diatas hanya menurut pendapat saya saja sebagai manusia yang serba lemah, Harapan saya hendaknya itu menjadi pertimbangan seperluanya. Jika ada salah atau kelemahannya itu sudah wajar. Hanya saya berharap supaya diberi petunjuk yang jelas mana yang salah dan mana yang lemah, bagaimana benarnya dan bagaimana baiknya. Tentu saja harap disertai dalil, dasar, dan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenaran dan kekuatannya.

Untuk itu saya sampaikan terima kasih.

Akhirnya : Allahu'alam

Solo, 1 Januari 1975

Tidak ada komentar:

Posting Komentar